realitas, idealis dan lain-lain

Ini hidup, bukan lagi ini budi. ini tentang kenyataan, bukan seandainya. saya memang malas untuk mendengar politik tralala trilili. tapi ini kenyataan, mau tidak mau saya harus beunta.

kekuasaan, kekayaan, kepura-puraan, tidak bisa di pungkiri. banyak sekali di realita ini yang berdasarkan dengan “kebijakan”. Peraturan hanya untuk di buat. Penghias kehidupan. Selanjutnya diputuskan berdasarkan kebijakan semata. kebijakan yang mungkin bagi sebagian orang itu menguntungkan. dan bagi sebagian orang lagi mungkin menjengkelkan. terkadang, kebijakan itu pun masih disalah artikan untuk membuat kebijakan baru. masih dan akan terus menganggap perlu dibantu.

seminggu. selalu mengamati apa yang terjadi di situs penerimaan siswa baru. dengan nilai NEM yang sangat luar biasa. tapi saya sendiri tidak heran, karena memang terjadi sesuatu yang mengakibatkan NEM itu membengkak layaknya otak jenius nan sempurna. “ada mau, ada jalan” itu mungkin pribahasa yang tepat untuk nilai NEM ini. tapi saya bukan ingin cerita tentang hal itu, melainkan mengenai kebijakan, peraturan, dan realitas!

begini kawan ceritanya. Hari ini adalah hari dimana diumumkannya passing grade untuk tingkat menengah pertama. saya sudah membaca dari awal tentang teknisnya di peraturan nya yang bisa di download di web penerimaan peserta didik baru tentang

“SURAT KEPUTUSAN
KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG NOMOR : 422.1/2427-Sekrt/2011 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA TAMAN KANAK-KANAK, RAUDHATUL ATHFAL, SEKOLAH DAN MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 DI KOTA BANDUNG.” didalamnya sudah ada peraturan yang berbunyai :

3.4.3.Jumlah nilai UN calon peserta didik diperingkat dan diambil sesuai dengan daya tampung sekolah pilihan kesatu sebagai pilihan utama. Apabila tidak diterima di sekolah pilihan kesatu diteruskan pada sekolah pilihan kedua yang selanjutnya akan ikut dalam pemeringkatan di sekolah pilihan kedua, melalui PPDB online Kota Bandungsaya sudah paham tentang peraturan itu dan tau itu peraturannya.
3.4.4.Jika pada batas akhir jumlah daya tampung terdapat nilai yang sama, maka selanjutnya pertimbangan pemeringkatan diambil dari:
4.4.4.1.Nilai rata-rata UN;
4.4.4.2.Apabila masih menghasilkan nilai yang sama, maka dipertimbangkan secara berurutan nilai mata pelajaran UN, mulai dari Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA;

saya pantengin itu web. dan ternyata yang memiliki NEM yang sama ada 13orang. hari-hari terakhir, ternyata sudah terlempar kepilihan 2 padahal Nem terkecil di pilihan pertama sama dengan Nem adik saya. oke, karena saya sudah paham, nilai itu harus diurutkan, maka saya menerima, karena memang itu peraturannya.
lain hal nya ketika saya cek pada pagi harinya. ada komentar yang menyatakan bahwa, minimal NEM nya sama dengan passing grade, pasti akan diterima. saya kurang percaya dan mendapatkan pernyataan bahwa :

Menurut Oji, sejumlah sekolah juga terpaksa diharuskan menerima calon peserta didik baru yang berada di wilayah abu-abu. Wilayah abu-abu adalah wilayah yang batas nilai UN sama tapi lebih dari satu yang jumlahnya mengakibatkan melebihi kuota yang seharusnya diterima di sekolah tersebut.

(http://jabar.tribunnews.com diakses tanggal 5 Juli 2011)

cukup meyakinkan, karena info kebijakan itu dari sang empunya pengambil keputusan. tapi saya dan terutama adik saya juga sudah berlapang dada jika bersekolah di pilihan kedua. berangkatlah saya pada sekolah pilihan pertama yang terletak di dekat salah satu mall di kota bandung. datang ke meja pengambilan hasil pengumuman, ditanya sama bapak-bapak yang jaga, intinya menanyakan kalau waktu di web ada nama anaknya atau nggak, saya jawab nggak. dia lalu menerangkan, kebijakan di terima atau tidak ada di bapak kepala sekolah. *eng ing eng* kepala saya sudah mengindikasikan ada yang tidak sejalan dengan pernyataan kepala dinas di koran itu.

dengan santai saya datang ke kepala sekolah itu. memang diruangannya ada sekitar 12 berkas yang di daerah abu-abu. ujung-ujungnya menanyakan orang tua saya kemana dan kenapa tidak orang tua yang mengambil. dan meminta orang tua saya menemui dia, mungkin mau menyumbang. *jeng jeng jeng*. menyumbang? kenapa gak di barengin saja sama yang lain???? terkesan membeli kursi atau paling tidak “ucapan terima kasih” kalau dibelakang seperti ini. murni kesan yang ada disaya, walaupun mungkin bukan itu maksudnya. *tidak boleh su’udzon*.
saya langsung saja tembak, “kalau tidak mau gimana?”. jelas-jelas di peraturan itu menyebutkan bahwa

“3.6.8
Pola pembiayaan pendidikan SMP/MTs Gratis. Sekolah hanya memfasilitasi orangtua peserta didik yang ingin berpartisipasi menjadi donatur secara sukarela dan tidak mengikat, serta pengelolaannya dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

walaupun memang tidak memaksakan, tapi kesannya itulohhh… lain hal nya mungkin kalau memang orang tua saya yang datang..
saya memang agak malas untuk banyak omong, takut omongan saya terbawa emosi saya. eh, maksudnya emosi saya terbawa pada saat saya berbicara. saya harus membenahi diri supaya bisa tetap pada idealis saya.

carut marut Indonesia, carut marut dunia pendidikan. sedih saya dibuatnya.
saya mahasiswa, belajar tentang idealis. belajar tentang potensi, posisi, dan peran mahasiswa di dalam masyarakat. salah satunya sebagai “agent of changes” tapi disaat seperti ini, saya bingung untuk menyampaikan cara menyampaikan idealis itu.
dan ada calon resiko yang membayangi, calon siswa di cirian, bahasa indonesia nya mungkin diskriminasi. entahlah, antara realitas dan idealis. inilah kehidupan!

senyum dan tawa di Kp. Situ Kidul, Cihurip (bag. 3) : Pendidikan

“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” -Pasal 31 ayat 1 UUD perubahan ke-5-

“Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”-Pasal 31 ayat 2 UUD perubahan ke-5-

begitulah bunya Undang-Undang Dasar negara kita, Indonesia. tidak dapat dipungkiri kalau biaya pendidikan di negeri ini mahal. atau mungkin kemampuan masyarakatnya yang belum mampu.

dengan adanya bantuan BOS (biaya Operasional sekolah) maka biaya sekolah gratis, sehingga banyak anak disini yang sekolah. dikampung ini, rata-rata berpendidikan hanya sampai dengan jenjang SMP. penghasilan warga yang tidak tetap, anak yang banyak, biaya pendidikan yang tidak sedikit membuat beberapa para orang tua hanya menyekolahkan ala kadarnya saja. malah ada anak yang tidak mau sekolah, sehingga ada telat masuk sekolah. beberapa anak ada yang menganggap sekolah itu tidak penting. Disisi lain semangat anak-anak yang lain disini sangatlah besar untuk belajar. mungkin jika ada fasilitator mengajar mereka akan terus belajar. ya! mereka kurang fasilitator yang menginspirasi.

pernah, suatu saat dimalam yang dingin dan lampu rumah yang remang-remang, ada sekitar 4 anak yang bermain-main bersama kami. lalu saya terpikirkan untuk menanyakan cita-cita mereka. dan hasilnya, mereka nampak tidak tau apa-apa. mungkin tidak terpikirkan tentang cita-cita. yah… andaikan saja saya bisa menginspirasi mereka, waktu 2 minggu ternyata kurang untuk berbuat lebih.

di kampung ini baru satu orang yang melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat perguruan tinggi. Abdurahman namanya, atau biasa dipanggil wawan. sekarang dia kuliah di UIN Sunan gunung jati, Bandung. dia mendapatkan beasiswa. itulah satu-satunya mahasiswa yang ada disana.

***
Pagi itu, acara ada acara samen di SD CIHURIP 1. di sekolah itulah rata-rata anak-anak kampung situ kidul bersekolah. acara berlangsung sederhana tapi meriah. tidak luput juga para mang-mang penjual makanan SD. para orangtua dengan setia menunggu sang anak mendapatkan hasil belajar sambil menonton apresiasi seni para siswa. ada yang menyanyi, berjoget atau menari, karawitan, ada pula yang sisindiran. dari sekian banyak anak yang berasal dari kampung situ kidul, rendi lah yang selalu mendapatkan peringkat di kelasnya. memang pintar anak ini. Guru-gurunya pun sangat ramah. benar-benar seperti bukan ke oranglain. padahal kami baru pertama kalinya ke SD itu.

salah satu penampilan di acara samen


***

senyum dan tawa di Kp. Situ Kidul, Cihurip (bag. 2) : semua bersaudara

Langit malam selalu memberikan pesona keindahannya. langit malam Kampung Situ Kidul tak membuat saya bosan untuk memandanginya sekali-sekali ditengah kegiatan yang kami lakukan malam itu. entah evaluasi atau bermain dengan anak-anak. langit yang masih bersih karena tidak terkena polusi cahaya membuat bintang-bintang betah untuk menampakkan cahaya indahnya. beribu-ribu bintang mulai dari yang paling terang dan besar, maupun yang cuma titik-titik putih. Subhanallah..

Di kampung ini, hampir semua bersaudara. pada awalnya saya kira itu cuma saudara sekampung, alias gak ada hubungan darah. sebelumnya saya bingung, karena syifa, memanggil nurul dengan sebutan bi nurul dan dewi dengan sebutan bi dewi. dari segi umur, syifa dan nurul tidaklah terpaut jauh umurnya, paling sekitar 3 tahun.

kebetulan ada tugas juga untuk silaturahmi ke keluarga-keluarga di sana. sekalian ngobrol-ngobrol dengan warga disana, sekalian mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di sana. Selidik punya selidik ternyata memang semua mereka bersaudara, satu uyut lebih tepatnya, Pak Marsijam dan Bu Ejom. Dan pembuatan silsilah keluarga pun akhirnya dilakukan. (belum selesai nih, ada di kelompok selanjutnya)

Di kampung ini hanya ada 1 warung, itu pun bukan warung sayuran. Warung itu hanya menjual garing-garingan yang tahan lama. Untuk suplay bahan pangan seperti sayuran jika tidak membeli ke Desa, bisa membeli ke Pasar Cikajang yang memerlukan waktu sangat lama. Nah, ada salah satu warga yang berinisiatif dan mau menyuplay bahan makanan walaupun harganya jauh lebih tinggi dari pada harga pasar. oia, kepala keluarga disini rata-rata bermata pencaharian sebagai buruh bangunan atau buruh tani. ada pula yang merantau ke kota bandung dan berjualan di kampus ganesha dan sekitarnya.